Tampilkan postingan dengan label Bit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bit. Tampilkan semua postingan

Kode Blok Data dan Kode Humming.



1. Blok Data
Pengkodean untuk pengiriman data secara blok yang dilengkapi dengan paritas ganjil atau paritas genap merupakan cara pengujian lebih baik, karena satu blok data akan disertai dengan paritas yang diletakan pada akhir blok data.
Untuk menguji data terkirim terjadi kesalahan bit (bit error) atau tidak bit paritas tersebutlah yang digunakan sebagai kunci uji untuk setiap karakter terkirim, dalam sistem transmisi data secara blok data artinya beberapa karakter terkumpul menjadi satu blok data maka bit paritas ini juga bisa dimanfaatkan.


Gambar 1. Rangkaian pembangkit paritas


Adapun penempatan bit paritas pada blok data adalah ditempatkan pada akhir sebuah blok, dengan demikian bit akhir dari blok data inilah yang disebut dengan block check character(BCC).
Paritas dapat dibangkitkan melalui software atau melalui hardware, baik secara software maupun secara hardware memiliki metode logika yang sama. Berikut merupakan pembangkitan paritas menggunakan gerbang EXOR:
Berdasarkan gambar 1. jika kode ASCII yang ingin dikirimkan memiliki logikabit 101 0010 maka akan didapatkan paritas sebagai berikut:

Gambar 2. Pembangkitan paritas dengan masukan 101 0010


Bit-0 EXOR bit-1 = 1, 
bit-2 EXOR 1 = 1, 
bit-3 EXOR 1 = 1, 
bit-4 EXOR 1 = 0,
bit-5 EXOR 0 = 0, 
bit-6 EXOR 0 = 1.
Dengan demikian didapatkan paritas genap berlogika 1 dan paritas ganjil didapatkan logika 0. Kelemahan kode paritas ini adalah apabila terjadi kesalahan atau error pada 2 bit maka error tidak terdekteksi sebagai error, 
Sebagai contoh data = 1010000 paritas genap digunakan sehingga data terkirim adalah 01010000. Ternyata pada penerima data terkirim menjadi 01010011,
Maka secara rumus paritas data adalah benar pada hal terdapat kesalahan pada bit 0 dan bit 1 yaitu berubah dari 00 menjadi 11. Dengan demikian error atau kesalahan pada bit 0 dan bit 1 tidak terdeteksi.
Perbaikan dari sistem ini adalah dengan mengirimkan data bukan perkarakter tetapi melalui blok data.
Misalkan dalam satu blok data disusun dari 7 buah karakter, dan isi data berupa pesan berbunyi “selamat” maka paritas dapat dicari dengan cara sebagai berikut:


Dari blok data yang terbentuk dari pesan selamat dicari kode ASCII setiap karakter, kemudian dicari paritasnya dalam kode ini diambil paritas genap dan dituliskan pada bit-7.
Setelah ditemukan semua paritas dari setiap karakter pembentuk pesan dan dituliskan pada bit-7, maka langkah selanjutnya adalah mencari paritas dari setiap kolom mulai bit-0 sampai bit-7 dan dituliskan secara mendatar pada baris BCC.
Adapun fungsi dari paritas pada bit-7 adalah sebagai kunci uji data untuk mencari error setiap karakter secara horisontal, istilah deteksi error secara horizontal adalah longitudinal redundancy check (LRC). 
Sedang fungsi paritas pada BCC sebagai baris penutup blok data difungsikan sebagai deteksi error secara vertikal, istilah deteksi vertikal adalah vertical redundancy check (VRC). Dari kedua paritas inilah terbentuk model matrik deteksi error yaitu kombinasi dari deteksi LRC dan deteksi VRC.

2. Kode Humming
Kerusakan data atau kesalahan data yang diterima oleh terminal penerima dalam sistem komunikasi data sering terjadi, hal yang mendasar sebagai penyebab adalah adanya interferensi sinyal luar yang masuk ke dalam jalur komunikasi, koneksi kawat penghubung, terminal, konektor pada layer terendah yang kurang baik. 
Hal tersebut menyebabkan sinyal gangguan (noise), sebagai akibat gangguan tersebut muncul permasalahan pada data yang diterima oleh penerima berupa data error. 
Terlebih pada transmisi data serial dengan kecepatan tinggi dan kualitas jalur transmisi yang rendah kesalahan (error) sangat mungkin terjadi, ukuran banyaknya bit error dalam blok data disebut sebagai bit error rate   (BER).
Terdapat toleransi kesalahan bit dalam sistem transmisi data, dan batasan nilai BER dalam satu kelompok data 105 bit.
Dalam penanganan kesalahan (error handling) bit terkirim tahapan utama dalam penerimaan data adalah deteksi kesalahan bit terkirim, selanjutnya dilakukan koreksi terhadap kesalahan (error).
Perbaikan data bisa dilakukan oleh penerima atau pengirim melalui permintaan pengiriman ulang data, permintaan ini melalui sinyal NAK dari penerima ke pengirim.
Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa proses deteksi kesalahan melalui bit yang ditambahkan (redundant bit) ke dalam data, dengan metode pengkodean tersebut dapat ditentukan kesalahan bitnya. 
Sistem pengkodean yang lain yang dapat digunakan dalam komunikasi data adalah kode Hamming. Konsep penerapan kode Hamming adalah dengan menggunakan bit paritas untuk disisipkan pada posisi tertentu dalam blok data, dengan demikian memungkinkan untuk dapat digunakan dalam pemeriksaan kesalahan dalam blok data. 
Aturan untuk menyatakan bit Hamming adalah melalui pendekatan 2n, nilai n dan n adalah bilangan bulat positif, cara untuk menentukan bit Hamming adalah sebagai berikut :
 Data = 1011 → penyisipan bit Hamming adalah 101x1xx
 Nilai x dapat dipilih 1 atau 0 dan disisipkan pada data
 Menentukan jumlah modulo-2 bit-1 agar data berparitas genap.
Bit ke- 7 6 5 4 3 2 1
Data    1 0 1 x 1 x x
Langkah selanjutnya adalah menentukan bit-Hamming yang harus disisipkan ke dalam bit-bit data, dalam hal ini semua bit yang ditandai dengan hurf x adalah tempat posisi bit Humming yang seharus disisipkan. 
Dengan demikian data yang semula terdiri dari 4 bit data maka pada akhirnya jumlah bit adalah 7 bit.
 Tabel penentuan bit-Hamming
 Bit-Hamming disisipkan ke dalam data, sehingga menjadi:
Bit ke- 7 6 5 4 3 2 1
Data    1 0 1 0 1 0 1
 Deteksi data error yang diakibatkan data berubah saat transmisi, diasumsikan terjadi perubahan pada bit ke 3 dari nilai logika 1 menjadi logika 0. Sehingga data yang diterima sebagai berikut:
Bit ke- 7 6 5 4 3 2 1
Data    1 0 1 0 0 0 1
 Pemeriksaan data melalui bit-bit Hamming ditemukan error berikut posisi bitnya, pada contoh terjadi error pada posisi bit ke 3.
 Berdasarkan tabel penentuan error diperoleh nilai biner 011, yang berarti bisa ditentukan kesalahan adalah pada posisi bit ke 3 pada data.
Perbaikan logika bit dapat dilakukan dengan melakukan inverting bit ke dari data, dengan demikian tidak diperlukan lagi pengiriman NAK ke pengirim untuk melakukan pengiriman ulang
---------------------- Suplemen ---------------------

Gerbang Logika EXOR




Artikel Terkait
Komunikasi Data
15. Topologi Jaringan Liniear Bus
14. Media Transmisi Jaringan
13. Perangkat Keras Jaringan 2 (Repeaters, Birdges dan Routers)
12. Perangkat Keras Jaringan 1 (File Servers, WorkStation, NIC dan Hubs)
11. Sistem Jaringan Lokal
10. Kode Blok Data dan Kode Humming
9. Unipolar, Polar dan Bipolar Line Coding dalam Slide
8. Kode 2B1Q, Kode Blok dan Kode ASCII
7. Unipolar Line Coding, Polar Line Coding dan Bipolar Line Coding
4. OSI (Open System Interconnection)
3. Aplikasi Komunikasi
2. Pengantar Sistem komunikasi Data
1. Glosarium Komunikasi Data.


Kode 2B1Q, Kode Blok dan Kode ASCII



1. Kode 2B1Q

Pengkodean dengan cara ini adalah dengan melakukan pengkodean 2 (dua) biner untuk dijadikan 1 (satu) kuarter, pola data yang terdiri dari 2 bit dikodekan menjadi sebuah elemen sinyal yang merupakan bagian dari sinyal berlevel empat. 
Sedangkan data dikirim dengan kecepatan 2 (dua) kali lebih cepat dibanding dengan pengkodean NRZ-L, dan pada bagian penerima memiliki empat threshold untuk melayani penerimaan data terkirim. 
Jika level sebelumnya adalah positip maka untuk nilai bit berikutnya 00 levelnya adalah +1, untuk bit 01 levelnya adalah +3, bit 10 levelnya adalah - 1 dan bit 11 levelnya adalah  -3.

Jika level sebelumnya adalah negatip maka untuk nilai bit berikutnya 00 levelnya adalah -1, untuk bit 01 levelnya adalah -3, bit 10 levelnya adalah +1 dan bit 11 levelnya adalah +3.

Konversi positip dan negatip dapat digambarkan diagram pulsanya sebagai berikut:  
Gambar 1. Diagram pulsa pengkodean 2B1Q

2. Kode Blok (Block Coding)

Tidak seperti kode jalur yang dijelaskan di atas, untuk kode blok ini beroperasi pada sebuah formasi stream bit informasi. 
Berikut beberapa hal terkait dengan kode blok yang beroperasi berdasarkan formasi blok bit informasi.
 Bit redundan ditambahkan ke setiap blok informasi, hal ini dilakukan untuk memberikan kepastian sinkronisasi dan pendeteksian kesalahan (error).
 Setiap 4 bit data dikodekan menjadi kode 5-bit.
 Kode 5-bit normalnya digunakan untuk penggunaan kode invers NRZ.
 Pemilihan kode 5-bit seperti halnya setiap kode berisi tidak lebih satu bit 0 sebagai bit awal dan tidak ada lagi lebih dari dua buah logika 0.
Oleh karena itu, ketika kode 5-bit dikirim secara sekuensial maka tidak akan terlihat tiga buah bit berlogika 0 lagi.Kode 4B/5B digunakan pada sistem komunikasi dengan media transmisi fiber optik (FDDI). 
Tabel 1. berikut merupakan tabel konversi 4 bit menjadi 5 bit. 



Tabel 1. Konversi Data 4B/5B




3. Kode ASCII

Sebuah standar Amerika untuk menunjuk sebuah karakter diberi nama American Standard Code for Information Interchange (ASCII), standar ini dapat digunakan untuk membuat kode sejumlah 128 buah karakter. Kode ASCII pertama digunakan tahun 1963, karena ada penambahan kode beberapa karakter maka kode ini disempumakan pada tahun 1967.

Setiap kode ASCII dinyatakan dalam bilangan heksa, kode ini merupakan cikal bakal sistem komunikasi digital antar perangkat komputer dan merupakan sistem kode yang pertama kali digunakan dalam sistem komputer dan komunikasinya. 

Sampai saat ini setiap komputer yang diproduksi menggunakan kode ASCII, baik pada komputer personal, laptop maupun jenis komputer lainnya.




Tabel 2. Kode ASCII


Tabel 2 merupakan sistem kode ASCII yang disusun secara matrik, bit ke 1 sampai bit ke 4 menunjukan kode belakang dan bit ke 5 sampai bit ke 7 menunjukan kode depan. Kode ASCII berdasarkan tabel 2 tersebut merupakan bilangan heksa desimal, jadi untuk karakter A (kapital) dari kolom menunjukan 100 berarti sama dengan 4 dan dari baris menunjukan 0001 yang berarti nilai 1 sehingga kode huruf A adalah 41 dalam bilangan heksa.
Misal ditanyakan berapa kode huruf b dalam heksa berdasarkan kode ASCII, maka jawabnya dilihat pada tabel 2 dari kolom = 110 dan dari baris diperoleh 0010 sehingga diperoleh kode 110 0010 = 62 dalam heksa.
Kode ASCII yang terdiri dari 7 bit akan memiliki pengkodean karakter sejumlah 27 = 128, yaitu mulai dari 000 0000 sampai dengan 111 1111. Pemanfaatan kode ASCII dalam transmisi data adalah dengan menambahkan 1(satu) bit lagi sehingga kode karakter menjadi 8 bit, fungsi dari bit ke delapan adalah untuk memberikan identitas paritas pada data terkirim.
Penambahan satu bit pariti ini dapat dimanfaatkan untuk menguji apakah data berupa karakter terkirim dengan benar atau tidak, atau dengan kata lain berfungsi untuk deteksi kesalahan bit pada data berupa kode ASCII terkirim. Dalam menentukan paritas karakter dapat dipilih, yaitu menggunakan paritas genap (even parity) atau diinginkan menggunakan paritas ganjil (odd parity).
Bit pariti akan menjadi bit MSB kode ASCII, sehingga dengan penambahan 1 bit setiap karakter akan membentuk jumlah logika 1(satu) pada kode tersebut.
Jika diharapkan kode dengan paritas ganjil maka jumlah logika 1(satu) harus ganjil, demikian juga jika diharapkan kode berparitas genap maka jumlah logika dalam kode tersebut berjumlah genap.
Misalkan untuk huruf A berdasarkan tabel 2 ditemukan kode 100 0001=(41H), pada kode ternyata memiliki jumlah logika 1 adalah dua buah. Jika diinginkan pengiriman data dengan paritas ganjil maka bit ke delapan sebagai pariti harus berlogika 1, demikian pula untuk kebalikannya jika diinginkan data terkirim dengan paritas genap maka bit ke delapan sebagai pariti harus berlogika 0.
Standar telekomunikasi ITU-T merekomendasikan bit terbesar (MSB) dari kode karakter untuk digunakan sebagai bit paritas, artinya untuk kode ASCII yang menggunakan 7 bit maka bit ke delapanlah sebagai bit paritasnya (lihat contoh untuk karakter A).



Artikel Terkait
Komunikasi Data
15. Topologi Jaringan Liniear Bus
14. Media Transmisi Jaringan
13. Perangkat Keras Jaringan 2 (Repeaters, Birdges dan Routers)
12. Perangkat Keras Jaringan 1 (File Servers, WorkStation, NIC dan Hubs)
11. Sistem Jaringan Lokal
10. Kode Blok Data dan Kode Humming
9. Unipolar, Polar dan Bipolar Line Coding dalam Slide
8. Kode 2B1Q, Kode Blok dan Kode ASCII
7. Unipolar Line Coding, Polar Line Coding dan Bipolar Line Coding
4. OSI (Open System Interconnection)
3. Aplikasi Komunikasi
2. Pengantar Sistem komunikasi Data
1. Glosarium Komunikasi Data.


Penjelasan untuk Setiap Layer Model OSI



Penjelasan untuk setiap layer model OSI, keterkaitan satu layer dengan layer lainnya dijelaskan fungsi setiap Layer pada model OSI sebagai berikut:

a. Physical Layer
Memberikan ketentuan tentang cara menyalurkan bit data melalui media komunikasi. Masalah yang dihadapi adalah menjaga agar supaya bit „1‟ diterima sebagai bit „1‟.
Layer ini menentukan spesifikasi mekanikal, listrik, prosedur handshaking, dan lain lain yang berkaitan dengan fungsi dan karakteristik mekanik maupun sinyal listrik yang diperlukan untuk membentuk, menjaga dan melepaskan sambungan fisik serta mengatur hubungan fisik antar nodes dalam jaringan.Ketentuan mekanikal dalam layer ini menyepakati bentuk konektor, arti dan fungsi pin yang digunakan.
b. Data Link Layer
Menyalurkan data melalui saluran ke jaringan secara bebas kesalahan. Pengirim mengirimkan data sesuai dengan pola yang telah disepakati dan dinamakan data frame. 
Frame ini disalurkan secara berurutan dan dikonfirmasi (acknowledged). Layer yang akan mengenali bentuk frame karena physical layer hanya sekedar mengirimkannya tanpa mengolah lebih lanjut.
Frame mengandung karakter atau pola bit tertentu agar DTE dapat mengenali awal dan akhir suatu frame. Data link layer juga menjaga agar penerima tidak kewalahan dalam menerima data dengan jalan melakukan kendali pada aliran data (flow control).
c. Network Layer
Layer ini mengalamati dan meneruskan data melewati satu atau kelompok jaringan. Layer ini akan mengendalikan routing dan switching pesan yang tidak tergantung pada jaringan yang sedang digunakan.
Layer ini bertanggung jawab untuk proses inisialisasi, pemeliharaan, dan pembersihan jaringan. Layer ini menyediakan protocol-protocl untuk komunikasi diantara jaringan-jaringan sehingga sangat penting pada aplikasi dial-up dan gateway.
d. Transport Layer
Transport Layer berurusan dengan pemilihan jenis jaringan yang akan digunakan untuk suatu komunikasi tertentu. Layer ini merupakan layer terendah dimana protocol bekerja secara end-to-end untuk memberikan kehandalan yang diinginkan dan sifat transparansi pengiriman data diantara dua terminal. 
Layer inilah yang bertanggung jawab untuk meyakinkan bahwa sebuah pesan, sampai pada alamat yang dituju. Hal ini dikerjakan dengan mendefinisikan alamat tujuan dan dengan menentukan cara untuk menginisialisasi dan membersihkan jaringan.
e. Session Layer
Layer ini yang mengatur bagaimana pelaksanaan pertukaran data dilakukan. Ia bertanggung jawab untuk sambungan antara dua end user yaitu mengatur agar dua aplikasi dapat saling menukar data. 
Layer ini mengendalikan bagaimana sebuah pesan dimulai dan diakhiri, apakah pesan tersebut harus di-acknowledge, dan apakah sambungan akan dioperasikan secara half-duplex atau full duplex.
f. Presentation Layer
Presentation Layer meyakinkan bahwa pesan yang diterima oleh semua terminal dapat dimengerti oleh teminal tersebut. Hal ini berarti bahwa layer ini berurusan dengan pemilihan dan penentuan struktur kode dan berbagai perubahan format, kode, bahasa, dan kecepatan pengiriman.
g. Application Layer
Layer ini mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pertukaran data atau informasi antar pemakai, software aplikasi, atau peralatan sistem komputer. Ia melayani berbagai protocol yang umum diperlukan. 
Sebetulnya layer inilah yang langsung dirasakan manfaatnya oleh pemakai sistem komputer. Application layer menentukan data apa yang harus diterima dari terminal tetapi tidak perlumengetahui secara rinci bagaimana hal ini dikerjakan
Berdasarkan penjelasan fungsi setiap layer pada model OSI, maka fungsi dapat digambarkan seperti berikut:


Gambar 
Fungsi layer model OSI.

Untuk lebih jelasnya :
Application     : Fungsi khusus seperti transfer file, terminal virtual, electronic-mail
Presentation   : Format data dan konversi karakter/data
Session           : Negoisasi dan pendirian hubungan dengan node yang lain
Tansport         : Ketentuan untuk pengiriman data
Network         : Penjaluran paket-paket informasi melalui banyak network
Data Link        : Mentransfer satuan informasi, frame, dan pengecekan terhadap error
Physical         : Transmisi data mentah melalui saluran komunikasi

------------------- Artikel Terkait ---------------------------------------

Artikel Terkait
Komunikasi Data
15. Topologi Jaringan Liniear Bus
14. Media Transmisi Jaringan
13. Perangkat Keras Jaringan 2 (Repeaters, Birdges dan Routers)
12. Perangkat Keras Jaringan 1 (File Servers, WorkStation, NIC dan Hubs)
11. Sistem Jaringan Lokal
10. Kode Blok Data dan Kode Humming
9. Unipolar, Polar dan Bipolar Line Coding dalam Slide
8. Kode 2B1Q, Kode Blok dan Kode ASCII
7. Unipolar Line Coding, Polar Line Coding dan Bipolar Line Coding
4. OSI (Open System Interconnection)
3. Aplikasi Komunikasi
2. Pengantar Sistem komunikasi Data
1. Glosarium Komunikasi Data.



Manajemen Memori pada RAM









Manajemen Memori pada RAM


MANAJEMEN MEMORI PADA RAM

Memori dalam komputer berfungsi untuk menyimpan data dan tempat untuk mengolah data. Memori ini mempengaruhi kualitas software yang dapat digunakan. Dulu ketika memori masih berkapasitas rendah, komputer belum bisa digunakan untuk menampilkan gambar (Grafis ).

A.    KLASIFIKASI MEMORI
Memori komputer dapat dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu Memori Utama dan Memori Tambahan. Memori utama adalah memori yang harus ada di dalam komputer. Jika tidak ada salah satunya, maka komputer tidak bisa bekerja.
Sedangkan, memori tambahan tidak harus ada. Memori ini hanyalah sebagai pelengkap.

I.      Memori Utama
Memori Utama lebih berfungsi sebagai tempat mengolah data di dalam komputer. Yang termasuk di dalam memori utama adalah RAM dan ROM. RAM kepanjangan dari Random Access Memory sedangkan ROM kepanjangan dari Read Only Memory. Data di dalam RAM akan hilang jika listrik mati sedangkan data di dalam ROM tidak hilang ketika listrik padam. Jika CPU adalah otaknya komputer, maka ROM adalah hatinya komputer.
1.     RAM : Random Access Memory
RAM adalah tempat pengolahan data di dalam komputer. RAM dibagi dua yaitu :
a.    Dynamic RAM ( DRAM )
Dynamic RAM adalah RAM yang dikenal di masyarakat. Jenisnya ada yang DIMM, SIMM dan DDR. RAM ini memiliki kapasitas yang besar sampai 2 GB
b.    Static RAM
Sementara Static RAM di masyarakat dikenal dengan nama Cache Memory. Cache Memory ini memiliki kecepatan yang tinggi tetapi kapasitasnya rendah. Sebab harga cache memory masih mahal.
 2.     ROM : Read Only Memory
ROM adalah memori komputer yang sudah melekat di dalam motherboard. ROM berisi program BIOS (Basic Input Output System).

II.     Memori Tambahan
Memori tambahan lebih berfungsi sebagai media penyimpan di dalam komputer. Seperti telah diketahui, data di dalam RAM akan hilang jika listrik padam. Agar data data yang sudah diolah tidak hilang, maka diperlukan memori lain untuk menyimpannya.
Data data yang tersimpan di dalam memori tanmbahan tidak hilang ketika listrik padam.
Yang termasuk dalam memori tambahan adalah :
1.     Floppy Disk ( Disket )
2.     Harddsik
3.     CD ROM / DVD ROM
4.     Flashdisk

B.    MANAJEMEN MEMORI




 

I.      Perkembangan Hardware dan Software
Sistem komputer terdiri dari hardware, software dan brainware. Hardware adalah perangkat keras komputer yang terdiri dari input, output , proceassing dan memori.
Di dalam hardware, terdapat sistem operasi internal yang dinamakan BIOS yang tersimpan di dalam ROM. BIOS berfungsi untuk menguji kesiapan hardware komputer sebelum bekerja.
Selanjutnya, peran BIOS sebagai sistem operasi diambil alih oleh DOS untuk berhubungan dengan brainware. Hanya saja DOS masih terbatas fasilitasnya dan dia hanya bisa menangani mode teks. Sehingga dikatakan sebagai Sistem Operasi berbasis Teks.
Untuk memperbaiki tampilannya agar mampu menangani mode grafis, microsoft membuat Windows. Windows dinamakan Sistem Operasi berbasis GUI ( Graphical User Interface )
Bagaimana memahami perubahan ini dan hubungannya dengan RAM, marilah kita perhatikan Peta RAM di bawah ini.

II.     Peta Memori dalam RAM


 


Dalam Peta RAM di atas, terlihat bahwa RAM terbagi dalam empat area, yaitu
1.     Conventional Memory
Menempati area dari 0 KB sampai dengan 640 KB. Di area ini disimpan file file sistem DOS yaitu IO.SYS, MSDOS.SYS, Command.com; file file driver dan file file I/O:
File ini diperlukan pada saat booting. Jika listrik padam, maka file file penting ini akan hilang dan berakibat komputer tidak bisa bekerja.
2.     Upper Memory
Menempati area dari 640 KB sampai dengan 1 MB. Di area ini disimpan file file data dan program aplikasi yang digunakan.
Namun, area ini sempit sehingga data yang digunakan terbatas, sehingga tidak cukup untuk menggunakan dua program aplikasi sekaligus.
3.     High Memory
Menempati area dari 1 MB sampai dengan 4 MB. Di area ini disimpan file file data yang tidak tertampung di Upper Memory. Area ini juga sempit sehingga data yang digunakan terbatas. Data data yang bersifat grafis tidak tertampung di area tersebut.
4.     Extended Memory
Menempati area di atas 4 MB. Di area ini sangat luas dan data data yang bersifat grafis dapat tertampung di area tersebut.
Agar data data yang bersifat grafis dapat diolah, maka komputer harus mampu memanfaatkan area Extended Memory. Masalahnya, RAM saat itu maksimal memiliki kapasitas 1 MB.
Oleh karena itu, harus ada perubahan di dalam anatomi komputer. Address bus yang dimiliki komputer XT dan AT286 pada saat itu adalah 20 bit yang mampu menggunakan RAM maksimal 1 MB.
Agar mampu mengolah grafis, address bus pada komputer setelah XT dan  AT286 diubah menjadi 32 bit yang mampu menggunakan RAM sebesar 4 GB.

III.    Hubungan Address Bus dan RAM
Address Bus memiliki satuan bit dan kapasitas RAM memiliki satuan byte. Bit singkatan dari binary digit. Misalnya :
08176463639 memiliki 11 digit atau
08176463639 memiliki 11 decimal digit
01110000111 memiliki 11  binary digit atau
01110000111 memiliki 11  bit
08176463639 tidak boleh dikatakan memiliki 11 bit karena bilangan 08176463639 menggunakan sistem bilangan desimal, bukan biner.
 
Perhatikan gambar di bawah ini :
Gambar di bawah ini menggambarkan hubungan antara bit dan byte

Pada gambar 3.a dapat dilihat bahwa 1 bit berarti memiliki dua kemungkinan yaitu 0 dan 1. Oleh karena itu, dikatakan 1 bit maksimal memiliki kapasitas memori sebesar 2 byte.
Pada gambar 3.b dapat dilihat bahwa 3 bit berarti memiliki delapan kemungkinan yaitu 000, 001, 010, 011 dan seterusnya. Nilai 000 misalnya mewakili Timur, 001 mewakili Tenggara, 010 mewakili Selatan, 011 mewakili Barat Daya dan seterusnya. Oleh karena itu, dikatakan 3 bit memiliki kapasitas memori maksimal sebesar 8 byte.
Pada gambar 3.c dapat dilihat bahwa n bit berarti memiliki  
kemungkinan 
Oleh karena itu, dikatakan n bit maksimal memiliki kapasitas memori sebesar.
byte

IV     Jenis Komputer, Address Bus ( Bus Alamat ) dan Kapasitas RAM



 Slide Presentasi












 
Copyright © 2013. SERVICEBYONLINE - All Rights Reserved

Distributed By Free Blogger Templates | Lyrics | Songs.pk | Download Ringtones | HD Wallpapers For Mobile

Proudly powered by Blogger